Konservasi sebagai penjaga demokrasi

As president of the United States, Theodore Roosevelt made conservation a central policy issue of his administration. He created five National Parks, four Big Game Refuges, fifty-one National bird Reservations, and the National Forest Service. Roosevelt advocated for the sustainable use of the nation’s natural resources, the protection and management of wild game, and the preservation of wild spaces. Considering America’s landscape to be the source of American wealth and the American character, Roosevelt believed conservationism was a democratic movement necessary to maintain and to strengthen American democracy. [Filler]

Sudahkah konservasi sebagai penjaga demokrasi?

dana pembangunan lingkungan hidup

Permasalahan lingkungan hidup tidak pernah menjadi perhatian penting oleh pemerintah. Berikut ini adalah salah satu yang mengindikasikan hal tersebut:

Berdasarkan Peraturan Presiden No.7/2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (PPJMN 2004 - 2009), APBN hanya mengalokasikan 1% untuk program lingkungan hidup. Kondisi ini tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, alokasi belanja (rutin dan pembangunan) untuk sektor sumber daya alam dan rencana wilayah/lingkungan hidup dalam Tahun Anggaran 2003 hanya sekitar 0,41%, yang hampir tidak berbeda dengan alokasi dalam Tahun Anggaran 1998/1999 (sekitar 0,49%).

Alokasi belanja pemerintah didasarkan kepada sektor atau departemen dan tanpa mempertimbangkan keterkaitan antar sektor atau departemen sehingga menyebabkan permasalahan pencemaran udara sebagai tanggungjawab Kementerian Lingkungan Hidup.

Dikutip dari: Website Udara Kota - Bappenas - http://udarakota.bappenas.go.id/view.php?page=kerangkakelembagaan

jelajah conservacy

dalam penjelajahan konservasi melalui millennium ecosystem assestment terus ke wild areas dan sayang tak bisa di-unduh sebuah software miradi, namun bisa juga lihat di the conservation measures partnership. dan akhirnya terdampar di ecology and society.

borneoLink

Ditulis dalam daerah. 1 Komentar »

Politics and Conservation

Sifting through headlines on BBC about a year ago, I came across a report stating that about 800 species of plants and animals are under the threatened of extinction, unless something is done soon. And this report came at the wake of the discovery of a new species in Borneo. Most of these species were identified to be from the tropics, the most diversity-rich part of the globe, and in some places, the report said, it would cost less that $1,000 per year to save them. If the cost of saving our wildlife was so low, then how is it that we came to lose so much in the first place? And still losing at a very alarming rate. [Sharmishta Sarkar Goyal]

politik konservasi. kebijakan. keberadaan spesies. menuju kepunahan.

globalisasi

John Naisbitt dan Patricia Aburdene (1990) pernah memprediksikan lahirnya “globalisasi”. Kedua orang ini membayangkan globalisasi debagai keadaan di milenium baru yang “lain” daripada milenium sebelumnya (it will be a decade like none that has come before because it will culminate in the milenium, the year 2000). Indikasi bagi akan adanya globalisasi itu antara lain ditandai dengan bom ekonomi global tahun 1990-an, sosialisme pasar bebas, “gaya hidup global” dan tidak ketinggalan pula persoalan lingkungan hidup dunia. [Kenangan]

diantara masa lalu dan masa datang.

an inconvenient truth

‘An Inconvenient Truth’ adalah sebuah film dokumenter tentang pemanasan global yang dibintangi oleh Al Gore, mantan wakil presiden Amerika Serikat pada era Bill Clinton. Film ini mencetak rekor pendapatan pada hari pertama untuk sebuah film dokumenter dan merupakan film dokumenter terlaris ketiga di Amerika Serikat setelah Fahrenheit 9/11 dan March of the Penguins. [Priyadi]

membongkar tentang ketidakinginan negara industri berbaik hati pada generasi kemudian.

gerakan lingkungan

SALAH satu aspek penting yang dibahas dalam KTT Lingkungan di Bonn, Jerman, belum lama ini adalah meratifikasi pelaksanaan Protokol Kyoto yang diyakini sebagai suatu piagam kesepakatan bersama untuk mengurangi pembuangan emisi dalam konteks industrialisasi. Padahal, proses keluarnya Protokol Kyoto juga dilalui dengan berbagai aspek pertimbangan, yaitu tidak saja dalam pendekatan industrialisasi, tetapi juga aspek lingkungan hidup. Jadi, secara tidak langsung menunjukkan bahwa agenda utama KTT Lingkungan di Bonn merupakan tindak lanjut tuntutan agenda World Environment Day. [Fereshti ND]

mengamati arah gerakan lingkungan hidup, semakin tidak mengerti apa yang ingin diperbuatkan.

supaya tahu

lihat tahukah anda. tentang Hasil Hutan Non Kayu (Non Timber Forest Product), IBA (Important Bird Area), Buku Merah IUCN untuk spesies yang terancam punah, Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention of Biological Diversity), Our Common Future (Laporan Brundtland untuk Pembangunan Berkelanjutan), Protokol Montreal, Agenda 21, Konvensi Ramsar (dalam Bahasa Indonesia), Carbon Trade, Kyoto Protocol, dan CITES.

pembangunan milenium